Ketika masih berumur 6 tahun, kami tinggal di daerah terpencil. Alm.Ayahku membuka pelayanan disana. Rumah kami dibangun tepat di depan kuburan tua, milik serdadu Belanda. Orang-orang bilang, tempat itu kramat. Mungkin ayah ingin membuktikan tak ada tempat keramat yang patut ditakuti oleh orang percaya, maka dia mendirikan rumah disitu. Kuburan tua itu bersebelahan dengan sungai. Airnya jernih, aku suka sekali bermain disana.
Alm.Ayah melarang aku bermain ke sana tanpa pengawasannya. Selain arus deras dan dalam, konon sungai itu dihuni buaya. Suatu waktu, aku bermain di sungai sendirian, dan ayah sangat marah mengetahui itu. Mengetahui kecintaan akan sungai itu, ayah jadi sering mengajakku ke sana. Maklumlah, di tempat itu minim sekali fasilitas bermain, sungai menjadi salah satu tempat bermain favorit. Read more »
