
Drake Bennett has an interesting and nuanced article in the Boston Globe Ideas section on money and happiness. To make a long story short, money can buy us some happiness, but only if we spend our money properly. Instead of buying things, we should buy memories:
A few researchers are looking again at whether happiness can be bought, and they are discovering that quite possibly it can – it’s just that some strategies are a lot better than others. Taking a friend to lunch, it turns out, makes us happier than buying a new outfit. Splurging on a vacation makes us happy in a way that splurging on a car may not.”Just because money doesn’t buy happiness doesn’t mean money cannot buy happiness,” says Elizabeth Dunn, a social psychologist and assistant professor at the University of British Columbia. “People just might be using it wrong.”
Read more »

Malaysia mungkin memang suka mencuri, atau tepatnya plagiat budaya. Ada 21 budaya Indonesia yang mereka klaim sebagai budaya asli mereka, salah satunya Ulos. Ternyata, tahun 2008 lalu, Malaysia sudah klaim Ulos sebagai bagian dari budaya mereka pada satu acara, yang katanya mewakili negeri-negeri yang ada di Malaysia.
Menurut Lidyanata Blog, kain ulos tersebut digunakan pada acara yang mewakili kebudayan negara-negara yang ada di Malaysia. Kain dipakai dalam suatu tarian, yang kalau tidak salah jenisnya ‘ragi hotang’, dengan tarian yang mirip tortor, hanya tangan mereka tidak ‘manyomba’ di depan dada, tapi diletakkan di samping paha kiri dan kanan dan kakinya ‘manyerser’ -serser. Read more »

Andi, sebut saja begitu namanya, bersemangat membuat janji untuk bertemu denganku. Katanya ia ingin membagi kunci sukses yang baru saja ditemukannya padaku, kunci yang ditemukan lewat internet. Dengan bersemangat dan mata berbinar ia menjelaskan ‘proposalnya’ padaku, seolah-olah ia expert dalam hal marketing internet, padahal baru kemarin ia tahu istilah ‘klik’, itu pun karena ikut-ikutan tren fesbuk!
Dua tahun belakangan, bermunculan banyak program yang katanya bisa menjadikan orang jadi jutawan, lewat internet. Orang-orang yang mengaku ‘ahli’ internet marketing pun menuliskannya dalam bentuk email dan skrip yang katanya bisa mewujudkan impian orang untuk mencapai kemapanan finansial, sambil ongkang kaki di rumah. Wuih, itu mimpi yang sangat indah. Read more »

Kali itu aku tak terusik gumpalan awan. Seperti biasanya di pesawat, aku suka duduk di pinggir jendela memandangi awan sambil menghayal tentang “Negeri di Awan”nya Katon Bagaskara. “Negeri di Awan ” terbaikan, digantikan keinginan dan pertanyaan tentang Carlo(s). Ingin segera sampai disana. Semoga dia tak mencukur janggut dan kumisnya (karena aku susah mengenalinya ketika baru cukuran).
Masih ingat percakapan terakhir kami, di suatu sore menonton matahari tenggelam. Berdiri menghadap lautan, memegang kaleng bir Tiger selundupan, memegangi pagar lighthouse (mercusuar) tempat ia tinggal (atau rumah keduanya setelah asrama perusahaannya) di sebuah pulau kecil, direcoki hembusan angin dan kicauan burung. Read more »